welcome...

Sugeng Rawuh kagem sadaya...
monggoh pinarak...

Minggu, 11 Desember 2011

makalah ilmu sosial dasar sosiologi

 MAKALAH ILMU SOSIAL DASAR 
SOSIOLOGI



Nama : Dwi Fajar Ary Ervinanto
Kelas : 1ka27
npm : 18111788

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
“Zoon politicon”, mungkin itulah kata-kata yang sering kita dengar apabila kita berbicara masalah sisi kehidupan sosial kita. Teman, keluarga, kawan adalah relasi bagi kita dalam menjalani proses berkehidupan kita, artinya mereka sengaja diciptakan oleh Tuhan untuk memudahkan segala langkah dan gerak kita dalam menjalani hidup. Dengan kata lain, mereka ada karena kita dan untuk kita. Mereka di sekeliling kita lah yang selalu dan selalu meneriaki kita terpuruk, memberi support di saat kita bertarung di sebuah lapangan kehidupan yang skenarionya telah diatur oleh Sang Pencipta.
Sebagai individu yang hidup dalam bermasyarakat, hal yang berhubungan langsung adalah lingkungan, dimana menurut banyak orang, lingkungan adalah instrument kehidupan yang sangat mempengaruhi proses metamorfosis kita. Apakah kita akan mampu bermetamorfosis sempurna atau akan selalu menjadi kepompong yang tidak mampu berbuat apa-apa, itu tergantung proses adaptasi dan bentukan dari lingkungan. Apakah nanti kita akan mempunyai sayap yang akan kita gunakan untuk terbang, itu tergantung pada proses relasi kita dengan lingkungan kita. Untuk berinteraksi dengan masyarakat di lingkungan kita, perlu adanya sebuah etika dan moral dalam bergaul. Etika perlu dipelajari sebagai suatu disiplin ilmu, karena mengerti etika adalah bagian dari etika itu sendiri.
Dalam interaksi dengan masyarakat di lingkungan sekitar kita, diperlukan suatu ikatan perasaan cinta dan kasih sayang. Cinta adalah perasaan simpati yang mendalam  yang biasanya melibatkan emosi yang mendalam  dan terjadi   antarlawan jenis, antara manusia yang satu dengan yang lain (cinta persaudaraan), cinta diri sendiri, cinta seorang ibu, cinta antara manusia dan Sang Pencipta. Keabadian cinta kasih dapat terjadi bila saling mengisi dan melengkapi. Pengertian saling melengkapi dan saling mengisi menunjukkan arti bahwa cinta itu dinamis. Seperti bunga yang sedang tumbuh senantiasa membutuhkan air sedemikian pula air baru memiliki arti bila sanggup  menghidupkan bunga.
Meninjau pada fenomena  cinta pada zaman sekarang, hal yang menarik  untuk disoroti adalah masalah cinta terhadap lawan jenis dalam masa modern. Cinta antara manusia yang berlawanan jenis biasanya saling mengisi dan melengkapi. Apa  yang tidak ada pada lawan jenis akan dilengkapi oleh lawan jenis yang lain. Akan tetapi gejala yang ditimbulkan dari kebebasan cinta tersebut membuat masalah baru. Hal ini dikarenakan adanya penyalahgunaan arti dari kebebasan itu sendiri. Oleh karena itu perlu adanya  kajian tentang bagaimana pergaulan antaranak muda yang rentan dengan adanya perubahan dan mudah goyah dengan suasana lingkungan sekitar, khususnya mahasiswa yang indekos. Sehingga diharapkan nantinya ada suatu solusi agar sebagai manusia bisa memerankan peranan gandanya yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
1.2     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini masalah yang akan dibahas adalah bagaimanakah indekos mesum ada di lingkungan masyarakat.
1.3     Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana indekos mesum ada di lingkungan masyarakat.

BAB 2. LANDASAN TEORI


2.1 Manusia sebagai Makhluk Individu
            Manusia menurut Prof. Jacob adalah makhluk biokultural; dimana ia adalah produk interaksi antara faktor-faktor biologis dan budaya. Sulit disangkal bahwa setiap perbuatan manusia yang kalau ditelusuri dengan hati-hati akan segera terlihat ada sesuatu yang terasa menghubungkan fenomena dengan fenomena yang lainnya. Dilihat dari caranya menampilkan dirinya, bisa kita lihat bahwa manusia sebagai makhluk individu, merupakan sisi yang sangat penting untuk diamati dan dipelajari. Masing-masing individu mempunyai “leitmotif” dalam memilih tindakan, apakah dia akan mencoba kompromistis dengan nilai sistem yang ada atau dia mempunyai suatu individual lainnya, yaitu mengambil jarak.
            “Individu”  (bahasa Prancis) artinya orang seorang. “In-dividere” berarti makhluk individual yang tidak dapat dibagi-bagi. Kata sifatnya adalah “individuel” (bahasa Prancis) menunjuk pada satu orang yang sekaligus untuk membedakannya dengan masyarakat (individu dan sosial), dan juga dimaksudkan ciri-ciri khas yang melekat pada satu orang tersebut. Setiap individu mempunyai ciri-ciri khas yang telah terbentuk dalam dirinya. Ciri-ciri watak seorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya identitas yang khusus disebut sebagai kepribadian.
            Kepribadian atau keunikan individu ini akan dapat dipahami dengan mempelajari unsur-unsur yang menyebabkan keunikan tersebut. Menurut Koentjaraningrat, unsur-unsur kepribadian meliputi pengetahuan, perasaan dan dorongan naluri. Dorongan naluri adalah sesuatu yang selalu ada pada setiap manusia, atau dengan kata lain merupakan unsur bawaan dengan tanpa memperoleh pengetahuan apapun sebelumnya. Ada beberapa macam dorongan yang perlu diketahui, yaitu:
1.      dorongan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya
2.      dorongan sex
3.      dorongan untuk mencari makan
4.      dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain
5.      dorangan meniru tingkah laku sesamanya
6.      dorongan untuk berbakti
7.      dorongan akan keindahan
Kepribadian dan unsur-unsurnya ini menyebabkan satu individu berbeda dengan individu yang lainnya. Manusia sebagai makhluk individu adalah manusia memiliki naluri untuk memenuhi kepentingan dan keinginan diri sendiri. Setiap manusia diciptakan oleh Tuhan dengan peralatan fisik yang tidak lengkat untuk hidup menyendiri.

2.2 Manusia sebagai Makhluk Sosial
            Manusia sebagai makhluk sosial dapat diartikan secara umum, bahwa ia dilahirkan untuk berhubungan dengan sesamanya, karena ia tidak dapat hidup sendirian.
            Kehadiaran individu dalam suatu masyarakat biasanya ditandai oleh perilaku individu yang berusaha menempatkan dirinya dihadapan individu-individu yang lainnya yang telah mempunyai pola-pola perilaku yang sesuai dengan norma-norma dan kebudayaan ditempat ia merupakan bagiannya. Di sini individu akan mencari jarak dan memproses dirinya untuk membentuk perilakunya yang selaras dengan keadaan dan kebiasaan yang ada. Perilaku yang telah ada pada dirinya bisa adjustable, artinya  ia bisa menyesuaikan diri. Namun ia juga bisa mengalami maladjustment, yaitu gagal menyesuaikan diri. Manusia sebagai individu selalu berada di tengah-tengah kelompok individu yang sekaligus mematangkannya untuk menjadi pribadi. Proses dari indvidu untuk menjadi pribadi, tidak hanya didukung dan dihambat oleh dirinya, tetapi juga didukung dan dihambat oleh kelompok sekitarnya. 
  1. Destruktif dan Konstruktif
Dalam proses untuk menjadi pribadi ini, individu dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat ia berada. Lingkungan disini hendaknya diartikan sebagai lingkungan fisik dan lingkungan psikis. Di dalam lingkungan fisik, individu harus menyesuaikan dirinya dengan keadaan jasmaninya sedemikian rupa untuk berhadapan dengan individu lain dengan keadaan jasmaninya yang sama atau berbeda sama sekali. Prasarana fisik yang sedemikian adanya harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terdiri dari individu-individu yang menganut sistem yang lama.
Dalam hubungan dengan lingkungan kita nanti akan melihat apakah individu tersebut menyesuaikan dirinya secara alloplastis, yaitu individu di sini  secara aktif mempengaruhi dan bahkan sering mengubah lingkungannya. Atau sebaliknya individu menyesuaikan diri secara padif (autoplastis), yaitu lingkungan yang akan membentuk pribadi seseorang.
Pada diri individu yang destruktif kita jumpai kecenderungn untuk memenuhi kebutuhan psikis berlebihan. Biasanya mencari kepuasan temporal yang sering kali hanya dinikmatinya sendiri, dan kalau mungkin hanya oleh segelintir individu-individu lain yang menjadi kelompoknya, dan dalam melakukan ini, penampilannya akan ditandai oleh tindakan yang semata- mata rasional kearah masa depan.
  1. Kompromistis dan Anti-Establishment
Sikap kompromis seseorang individu biasanya banyak disebabkan oleh cara-cara yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan organik maupun kebutuhan psikologis. Sikap anti-establishment ini merupakan sikap individual yang berlebihan dalam hal individu berintaraksi dengan lingkungannya. Hal ini sangat erat kaitannya dengan usaha individu dalam pencarian identitas diri yang bersifat psikologis (in the search for self identity). Sehingga dalam proses pencarian, akan terlihat penggambaran mengenai waktu diri sendiri yang sangat dominan.

2.3 Keluarga
            Keluarga adalah unit atau satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Kelompok ini, dalam hubungannya dengan perkembangan individu sering dikenal sebagai primary group. Keluarga sebagai kelompok pertama yang dikenal individu sangat berpengaruh secara langsung terhadap perkembangan individu sebelum maupun sesudah terjun langsung secara individual di masyarakat.
a.      Keluarga hendaknya selalu menjaga dan memperhatikan cara pandang individu terhadap kebutuhan pokoknya, baik yang bersifat fisik maupun psikologinya.
b.      Mempersiapkan segala sesuatunya yang ada hubungannnya langsung maupun  tidak langsung dengan pendidikannya.
c.      Membina individu dengan cara mengamati kecenderungan individu (train)
d.      Keluarga adalah model dalam masyarakat yang menjadi acuan yang baik untuk ditiru yang juga menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Keluarga sangat berkepentingan dan sangat bepengaruh pada individu yang akan diterjunkan di lingkungan masyarakat, baik atau tidak baik kepribadiannya, bisa atau gagal menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat ia berada. Karena kepribadian dasar terbentuk di dalam keluarga.
Kepribadian dasar terbentuk dalam keluarga. Kepentingan keluarga dalan individu adalah pada kelangsungan generasi dan yang paling ideal adalah keluarga mempunyai andil besar dalam menentukan hari esok lingkungan, baik itu lingkungan fisik dan lingkungan psikis.

2.4 Hakikat Masyarakat
            Masyarakat adalah kelompok manusia yang saling berinteraksi, yang memiliki prasarana untuk kegiatan tersebut dan adanya saling keterkaitan untuk mencapai tujuan bersama. Masyarakat adalah tempat kita bisa melihat dengan jelas proyeksi individu sebagai (input) bagi keluarga, keluarga sebagai tempat terprosesnya dan masyarakat adalah tempat kita melihat hasil (output) dari proyeksi tersebut.
            Individu yang berada dalam suatu masyarakat tertentu berarti ia berada pada suatu konteks budaya tertentu. Pada tahap inilah arti keunikan individu itu menjadi jelas dan bermakna, artinya akan dengan mudah dirumuskan gejala-gejalanya. Karena di sini akan terlihat individu sebagai perwujudan dirinya sendiri dan merupakan makhluk sosial sebagai perwujudan anggota kelompok atau anggota masyarakat.
            Di dalam masyarakat setiap orang memiliki fungsinya yang khusus; dengan demikian ada pembagian kerja sehingga tiap individu dapat mengarahkan dan mengembangkan bakat-bakatnya. Dilihat secara menyeluruh, prestasi yang ada dalam masyarakat itu lebih dari sekedar jumlah saja dari individu yang menjadi anggota masyarakat.

BAB 3. PEMBAHASAN

Manusia tercipta sebagai makhluk yang mampu berpikir (homo sapien), makhluk sosial (homo sosious), dan makhluk yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa (homo religous) sekaligus juga sebagai makhluk yang unik. Unik dalam segala perilaku dan perbuatannya, sehingga terkadang sulit diprediksi untuk apa manusia berbuat sesuatu, yang kadang-kadang sulit diterima berdasarkan nalar yang sehat atau secara normal. Istilah normal inipun juga bukan patokan yang pasti tetapi tergantung orientasi kita (kapan, dimana dan siapa); misalnya suatu saat pada hari Jumat kita sholat di parkiran, karena tak kebagian tempat di dalam mesjid, itu normal, tetapi di saat yang lain orang sholat sendirian di tempat tersebut, pasti dianggap tidak normal, bisa-bisa ia ditangkap satpam. Itulah salah satu keunikan dalam kehidupan manusia.
Manusia membentuk suatu kebiasaan pada suatu zaman tertentu yang disebut dengan budaya. Kalau mesum kita tinjau dari segi budaya sekarang mungkin  dari kata-katanya saja masih terlalu janggal untuk diungkapkan. Namun kata-kata  mesum  sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi, malah sudah menjadi pembicaraan hangat terutama di kalangan remaja dan dewasa.
Perbedaan budaya dahulu dan sekarang sangat gamblang, semua itu disebabkan dari  perubahan era globalisasi yang informasi-informasi banyak kita dapatkan tanpa adanya penyaringan atau filtrasi untuk membedakan baik dan buruknya. Informasi yang diterima tersebut pada umumnya telah memberikan pengaruh yang amat besar kepada perkembangan dalam kehidupan sosial budaya suatu kelompok masyarakat, baik gaya hidup, apersepsi, persepsi, sikap, perilaku, serta pandangan hidup. Produk yang nyata dapat dirasakan pada umum adalah pesan-pesan agar sekelompok warga masyarakat dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang dikenalnya sebagai “budaya populer  (popular culture)”. Kondisi yang segala sesuatu secara entitas (entity)  harus disesuaikan dengan hal-hal yang lagi “trendy”, “ngepop” atau “mode”. Faktor-faktor di ataslah yang membuat budaya sekarang jauh berbeda dan bisa dikatakan mulai menyimpang.
Hal lain yang berpengaruh besar dalam pembentukan tingkah laku manusia adalah pengaruh dari dalam atau pengaruh biologis. Selain itu, lingkungan sangat berpengaruh pada  masa usia pertumbuhan. Lingkungan bisa dikatakan sebagai faktor utama pembentukan tingkah laku pribadi seseorang pada masa sekarang, bagaimana tidak mayoritas remaja dan dewasa berkembang sesuai lingkungannya. Contoh sederhana misalnya dalam ruang lingkup kampus mayoritas mahasiswa  yang lebih mengutamakan penampilan dari pada kemampuan akademik. Penampilan dapat kita  lihat pada cara berpakaian, terutama yang dilakukan oleh kaum wanita yang terkesan bebas tanpa memandang etika berpakaian dalam budaya ketimuran. Cara  berpenampilan  itulah yang merupakan salah satu penyebab  terjadinya perilaku mesum. Bagaimana tidak, dengan wanita berpakaian terbuka dapat menimbulkan nafsu pada laki-laki sehingga mesum (perbuatan tidak senonoh) tidak dapat terhindarkan.
Pergaulan bebas adalah salah satu kebutuhan hidup dari manusia sebab manusia adalah makhluk sosial yang dalam kesehariannya membutuhkan orang lain, dan hubungan antarmanusia dibina melalui suatu pergaulan. Pergaulan juga termasuk hak asasi manusia setiap individu dan harus dibebaskan, sehingga setiap manusia tidak boleh dibatasi dalam pergaulan, apalagi dengan melakukan diskriminasi, sebab hal itu melanggar hak asasi manusia. Karena manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa secara kodrati dianugerahi hak dasar yang disebut hak asasi tanpa perbedaan antara satu dengan lainnya. Dengan hak asasi tersebut, manusia dapat mengembangkan diri pribadi, peranan, dan sumbangannya bagi kesejahteraan hidup manusia. Hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat pada diri manusia yang sitatnya kodrati dan universal sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa dan berfungsi untuk menjamin kelangsungan hidup, kemerdekaan, perkembangan manusia dan masyarakat, yang tidak boleh diabaikan, dirampas, atau diganggu-gugat oleh siapapun.
Suatu tingkahlaku yang dilakukan oleh seseorang dapat dikatakan baik atau tidak baik, normal atau tidak normal, sehat atau tidak sehat, dan sebagainya sebenarnya sangat ditentukan orientasi  seseorang dalam kehidupannya. Dan tingkah laku manusia tersebut sangat ditentukan oleh lingkungannya. Lingkungan dapat berubah kapanpun tergantung kondisi dan pelaku sosial (masyarakat) yang tinggal di lingkungan tersebut. Sebuah tempat tinggal atau indekos bisa menjadi surga dunia bagi penghuninya juga bisa menjadi asal mula dari sebuah kesenjangan masyarakat. Penyalah gunaan fungsi tempat tinggal atau indekos dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
§  Kondisi lingkungan atau indekos dan kontrakan yang terlalu bebas.
§  Tersedianya kost-kostan yang memang diperuntukkan untuk laki-laki dan perempuan (campur).
§  “Induk semang” yang tidak begitu peduli terhadap aktivitas anak-anak kuliahan maupun penghuni lainnya.
§  Harga indekos dan kontrakan yang sangat terjangkau.
Predikat indekos mesum telah banya melekat pada beberapa tempat yang memang menurut informasi sering digunakan untuk melakukan sesuatu di luar kewajaran antaranak muda atau mahasiswa. Indekos mesum ini menjadi media pengembangan pergaulan bebas di kalangan remaja atau lebih khususnya mahasiswa. Pergaulan atau seks bebas bisa timbul dari situasi yang muncul atau karena sebagian orang berpendapat bahwa orang-orang  yang tidak melakukan kegiatan seks bebas merupakan orang yang kolot atau tidak modern. Ada juga yang berpendapat bahwa maraknya seks bebas di kalangan remaja ternyata berkaitan erat dengan dampak krisis moneter. Krisis moneter membuktikan kalau di desa orang butuh uang, tapi di kota meski sudah punya uang namun butuh lebih banyak. Akibatnya apa pun tindakan akan dilakukan demi uang. Sehingga orang tidak lagi memikirkan melanggar hukum agama atau tidak.
Dengan adanya predikat indekos mesum tersebut, menjadikan kehidupan bermasyarakat tidak harmonis lagi. Banyak orang di sekitar indekos mesum yang merasa terganggu dan risih terhadap omongan-omongan orang tentang lingkungan sekitarnya. Apalagi jika dihadapkan langsung dengan fenomena tersebut, anak laki-laki sering datang ke tempat ceweknya tanpa mengenal waktu atau sebaliknya. Ketakutan akan pengaruh seks bebas indekos mesum tersebut akan masuk ke keluarga mereka pun tidak bisa dibendung.

BAB 4. SOLUSI

Masalah-masalah yang sudah dibahas di atas, sebenarnya merupakan dampak dari berbagai persoalan yang dihadapi (persoalan pribadi, keluarga) yang akhirnya membawa  seseorang pada penyalahgunaan-penyalahgunaan. Di sisi lain pergaulan bebas (free sex, narkoba, HIV-AIDS) merupakan tawaran yang sudah merupakan satu mata rantai lingkaran setan yang menggerogoti kehidupan kaum muda pada khususnya. Untuk itu usaha yang bisa dilakukan adalah memberikan informasi positif (tidak menakut-nakuti)  yang lengkap mengenai permasalahan-permasalahan dan dampaknya bagi kehidupan manusia serta memberikan pendampingan (keterlibatan dalam suatu organisasi) dan kunjungan. Pendampingan dan kunjungan ini lebih menyangkut  nilai-nilai iman dan moral yang hendak kita sampaiakn untuk membuka  wawasan  bagi mereka agar mampu mengubah cara pandang mereka dan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab atas tawaran-tawaran di atas. Lebih memberikan anjuran dan persan moral  untuk membuka sebuah cakrawala baru menenai masalah tersebut bagi pendampingan keluarga, kaum muda semua umat beriman. Menegaskan kepada mereka bahwa sebenarnya pergaulan antarmanusia itu memang seharusnya bebas, tetapi tetap mematuhi norma agama, norma hukum, norma budaya, serta norma bermasyarakat. Jadi apabila pergaulan bebas namun  teratur atau terbatasi oleh aturan-aturan dan norma-norma hidup manusia tentunya tidak akan menimbulkan ekses-ekses seperti masalah di atas.
Langkah yang lainnya adalah mengajak seluruh komponen, terutama keluarga-keluarga kaum muda untuk mampu bertanggung jawab atas perilakunya dan sadar akan martabatnya sebagai  ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, kita semua dituntut untuk memiliki ketahanan mental agar tidak mudah tergoda untuk melakukan hal-hal yang tidak sewajarnya sehingga akhirnya menjadi menyimpang. Untuk memperoleh ketahanan mental tersebut kita sudah diberikan acuan dan pedoman berupa norma-norma agama, norma etika maupun norma sosial. Oleh sebab itu berperilakulah yang normatif dalam arti bertingkahlaku mengikuti norma agama, norma etika dan norma sosial yang berlaku. Dan yang paling penting adalah kesadaran harus muncul dari dalam diri manusianya (self control), dimana untuk memunculkannya hanya dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. melalui ibadah dan dzikrullah.


DAFTAR PUSTAKA


Ahmadi, A. 1991. Ilmu Sosial Belajar. Jakarta : Rineka Cipta

Bouman. 1976. SOSIOLOGI (Pengertian-Pengertian Dan Masalah-Masalah). Jakarta : Yayasan Kanisius

Daldjoeni, N. 1997. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Mahasiswa IKIP (FKIP) dan Guru Sekolah Lanjutan. Bandung : PT. Alumni

Darmayah.dkk.1986. Ilmu Sosial Dasar (Kumpulan Essei). Surabaya : Usaha Offset Priting.

Diknas .2003. Modul Acuan Proses Pembelajaran Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar Ilmu Kealaman Dasar. Jakarta : Diknas


http://www.e-psikologi.com/dewasa/050804.htm



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar